Lompat ke isi utama

Berita

Belajar Demokrasi dari Ruang Kelas, Bawaslu Mengajar Kembali Hadir di SMAN 1 Bulukumba

Bakri Abubakar

Keterangan Gambar : Ketua Bawaslu Bulukumba (Bakri Abubakar) saat menyampaikan materi pada program Bawaslu mengajar di Kelas XII 5 SMAN I Bulukumba, Jumat, 30 Januari 2026.

Bulukumba, Badan Pengawas Pemilihan Umum - Suasana kelas XII 5 SMAN 1 Bulukumba, Jumat, 30 Januari 2026, tampak berbeda dari biasanya. Puluhan siswa menyimak dengan penuh antusias materi tentang pemilu, tata kelola negara indonesia dan peran generasi muda dalam menjaga demokrasi. Pagi itu, demokrasi tidak lagi sekadar teori di buku pelajaran, tetapi hadir dan dibicarakan secara langsung melalui program Bawaslu Mengajar yang di gagas Bawaslu Bulukumba.

Ketua Bawaslu Bulukumba, Bakri Abubakar, hadir sebagai narasumber. Dengan bahasa yang ringan dan komunikatif, ia mengajak para pelajar memandang pemilu bukan sekadar peristiwa lima tahunan, tetapi juga sebagai tanggung jawab moral untuk menjaga kejujuran dan keadilan dalam proses pemilu.

“Demokrasi adalah amanah. Ia akan rapuh jika kita abai, dan akan kuat jika kita jaga bersama, kalian adalah pemilih masa depan, bahkan pengawas masa depan” tutur Bakri, disambut tatapan penuh rasa ingin tahu dari para siswa.

Di ruang kelas yang sederhana itu, istilah pengawasan, hak pilih, dan partisipasi tidak disampaikan sebagai teori kaku. Ia mengalir sebagai dialog, sebagai ajakan berpikir, sekaligus sebagai cermin bagi generasi muda agar tidak menjadi penonton di panggung demokrasi. Para siswa terlibat aktif berdiskusi, Bawaslu mengajar menjadi ruang belajar yang membangun kesadaran bahwa demokrasi membutuhkan partisipasi aktif dan cerdas dari generasi muda.

Bagi Bawaslu Bulukumba, sekolah adalah ladang subur menanam nilai-nilai demokrasi. Dari bangku inilah diharapkan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berani bersikap dan jujur dalam pilihan politiknya.

Bakri Abubakar menegaskan, masa depan demokrasi Indonesia berada di tangan generasi muda hari ini. Karena itu, penguatan literasi demokrasi harus dimulai sejak dini, sebelum mereka benar-benar memasuki ruang partisipasi politik.

Ketika kegiatan berakhir, yang tertinggal bukan sekadar catatan materi. Ada benih kesadaran yang disemai, bahwa demokrasi bukan hanya milik penyelenggara pemilu, melainkan milik setiap warga negara. Dan di kelas XII 5 SMAN 1 Bulukumba pagi itu, benih-benih itu mulai menemukan tanahnya.

Penulis /foto : Muh. Ashar